Minggu, 09 Juli 2017

Menyusur Sungai, Menyisir Kampung


Judul: Merekam Kali Pepe: Menggali (kembali) Pengetahuan Bersama Warga
Penulis: Tim Dokumentasi Kampungnesia
Penyunting: Akhmad Ramdhon dan Siti Zunariyah
Penerbit: KampungnesiaPress dan Cantrik Pustaka
Cetakan: Pertama, 2017
Tebal: 150 halaman; 13 x 20 cm
ISBN: 978-602-6645-05-0

Produksi pengetahuan kota juga berarti produksi pengetahuan tentang kampung. Beberapa tahun terakhir, Kampungnesia telah secara giat melakukan pendokumentasian kampung-kampung di Solo. Pendokumentasian tak semata mengandalkan data-data dari kelurahan atau informasi lain yang sifatnya administratif. Tim dokumentasi mengakrabi kampung secara langsung. Mereka berkunjung ke kampung, menjelajah wilayah dengan berjalan kaki, membekaskan jejak-jejak di sekujur kampung. Penjelajahan tak berhenti pada ruang spasial, menelusuri imajinasi historis warga ihwal kampung masing-masing pun menjadi penting. Gerak tubuh membentuk peta, sedang kata-kata mengimajinasikan semesta.


Kali ini, Kampungnesia memilih pendekatan berbeda. Mereka menghindari narasi besar produksi pengetahuan kota yang berkecenderungan daratan. Kampungnesia kini mendekati kampung lewat sungai. Kita menyaksikan sungai mulai diperhatikan banyak pihak, namun perhatian melalui kajian tak lebih banyak dari gerakan. Diskursus tentang sungai itu sendiri belum setara derasnya aktivisme di ruang-ruang sekitar sungai. Maka, kehadiran buku Merekam Kali Pepe: Menggali (kembali) Pengetahuan Bersama Warga (2017) adalah ikhtiar menggiati kajian sungai yang terbengkalai. Pengkajian dilakukan bukan secara akademis berpretensi intelektual, melainkan secara parsitipatoris dengan keterlibatan warga.

Penyunting menyertakan sedikit catatan penting, “mendokumentasikan kampung sudah menjadi hal yang rutin untuk didokumentasikan, namun melihat sungai sebagai hasil dari cara pandang warga kampung-kota sehari-hari belum pernah kami lakukan. Maka buku sederhana ini adalah upaya dari hasil proses belajar kami untuk memahami kota yang berubah dari sisi yang berbeda yaitu Kali Pepe” (hlm. 6). Penyunting sudah mengarahkan kita pada satu sungai belaka. Sungai yang dikaji adalah Kali Pepe, salah satu sungai paling penting dan pantas diperhatikan di Solo. Kali Pepe dikelilingi, dan menghubungkan, beberapa kampung di Solo. Lebih lanjut, penyunting menulis, “hari ini wajah Kali Pepe telah mengalami banyak perubahan, sebuah kondisi yang penting untuk diupayakan bersama-sama agar bisa lebih baik” (hlm. 8).

Isi buku dibagi menjadi dua belas bagian yang setiap judulnya diawali “#” (tanda pagar). Tanda pagar, atau dalam bahasa milenial disebut hashtag, memang penting bagi laku bermedia sosial. Tanda pagar mengumandangkan proses dan, terutama, semangat produksi pengetahuan ke sebaran yang lebih luas. Sebelum dijelmakan buku, proses itu pun telah melibatkan tanda pagar. Jika kita berjumpa #MemetriKaliPepe di media sosial berarti kita sedang menyaksikan proses produksi pengetahuan itu terjadi. Setiap retweet atau share kita berarti secara apresiatif mengumumkan produksi pengetahuan itu kepada khalayak. Setiap like, biarpun terasa sangat sepele, setidaknya melegakan tubuh-tubuh yang bergerak menelusur kampung serta kata-kata yang dipertukarkan dalam obrolan.

Jika kita membacanya dengan jeli, dua belas bagian isi buku sebetulnya esai-esai yang ditulis terpisah oleh penulis yang berbeda-beda. Kita bisa mengamatinya berdasar struktur bahasa dan repetisi-repetisi kecil. Kendati demikian, esai-esai itu berhasil ditata sedemikian rupa sehingga menjelma catatan perjalanan apik menyusur sungai dari hulu ke hilir. Kita diajak berjalan menyusur Kali Pepe sejak Terminal Tirtonadi ke pintu air Demangan. Kita lekas mengerti kenapa Kampungnesia memilih sungai sebagai sumber produksi pengetahuan. Sungai menghubungkan kampung-kampung, dan menunjukkan kelindan perilaku warga antarkampung. Misalnya, botol bekas air mineral yang warga buang di Gilingan akan menjelma timbunan sampah yang merepotkan di Butuh. Maka, berkampung sejatinya lebih luas dari sekadar aktivitas sosial setempat.

Kampungnesia menjelajahi sungai dan kampung memakai pendekatan sosiologis-environtmentalis. Satu hal yang tidak luput dari penjelajahan adalah dokumentasi mitos-mitos di sungai. Salah satu warga di sekitar stasiun Balapan berkisah bahwa ada seekor ikan bermuka dua yang dulu sempat tertangkap salah satu warga. Penangkap ikan tidak lama kemudian sakit dan lumpuh. Namun, setelah ikan tersebut dikembalikan ke sungai akhirnya warga tersebut bisa berjalan kembali (hlm. 35). Mitos Kali Pepe lainnya adalah keberadaan seekor buaya putih di bawah jembatan gantung dan keraton ular di bawah terowongan bangunan Victory. Mitos barangkali lekas terbantahkan dalam pengamatan empiris, namun toh mitos-mitos itulah yang membentuk nilai dan cara pandang warga terhadap sungai.

Pada akhirnya kehadiran buku Merekam Kali Pepe penting dalam rangka memulai diskursus sungai di Solo. Diskursus sungai di Jogja misalnya, sudah menyasar ke Kali Code dan Gajahwong. Namun, sungai-sungai di Solo selama ini baru disentuh beragam aktivisme, entah berupa gerakan lingkungan atau pendidikan semisal pendirian sekolah rakyat. Peradaban dibangun berdasarkan kepercayaan pada pengetahuan. Maka, segala ikhtiar memproduksi pengetahuan layak diapresiasi dan didakwahkan seluas-luasnya. Terakhir, kita semua wajib mengamini dan syukur-syukur mewujudkan doa-doa warga yang terdokumentasi dalam buku. Doa sederhana diucap Mbah Giyarno, warga sepuh di Pringgondani, “muga-muga pemerintah isa ngatasi Kali Pepe kanthi apik lan warga isa guyub gotong-royong bareng-bareng njaga Kali Pepe.” Allahuma... amin!

Solopos, 9 Juli 2017.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar